INTEGRITAS.web.id - Wono Giri.Siapa sangka singkong yang selama ini identik dengan makanan sederhana di pedesaan bisa berubah menjadi sajian kuliner yang menggugah selera dan bernilai ekonomi?
Semangat itulah yang terlihat di Desa Pengkol, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81
Kemerdekaan Republik Indonesia, ibu-ibu dari empat dusun beradu kreativitas mengolah singkong sebagai bahan baku utama menjadi beragam kuliner dengan tampilan dan cita rasa yang berbeda.
Kegiatan yang berlangsung di Pendapa Balai Desa Pengkol, Selasa (11/8/2026), tersebut bukan sekadar perlombaan. Di balik kesederhanaannya, tersimpan pesan besar: hasil bumi desa bisa menjadi sumber kreativitas sekaligus peluang ekonomi bagi masyarakat.
Acara dibuka langsung Kepala Desa Pengkol, Sularto, didampingi tim juri yang berasal dari sejumlah unsur instansi di Kecamatan Jatiroto.
Sularto mengapresiasi gagasan warga yang untuk pertama kalinya menggelar lomba kuliner berbahan baku murni singkong.
“Ini pertama kalinya ibu-ibu warga Pengkol mengadakan lomba kuliner berbahan baku murni dari singkong,” ujar Sularto.
Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai perlombaan dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan. Ia ingin kreativitas warga berkembang hingga mampu melahirkan produk kuliner khas Desa Pengkol.
Singkong, kata dia, dapat dikembangkan menjadi berbagai jenis makanan dengan modifikasi dan varian yang menarik.
Gagasan lomba tersebut dicetuskan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Pengkol,Ambang Dwi Pramono.
Ia melihat singkong bukan sekadar hasil pertanian yang biasa dikonsumsi masyarakat, melainkan bahan pangan lokal yang memiliki potensi besar apabila diolah secara kreatif.
Pohong atau singkong bisa dikemas menjadi berbagai varian makanan yang pantas dan banyak diminati para penikmat kuliner tradisional Wonogiri,” kata Ambang.
Menurutnya, kreativitas ibu-ibu desa perlu terus didorong karena dari dapur rumah tangga sekalipun dapat muncul ide usaha yang mampu menggerakkan perekonomian keluarga.
Karena itu, lomba tersebut diharapkan menjadi titik awal tumbuhnya UMKM berbasis pangan lokal di Desa Pengkol.
Lima Kriteria Jadi Penentu
Kreativitas peserta tidak hanya dinilai dari tampilan. Dewan juri yang diwakili Maryati dan Yanti menggunakan lima kriteria utama, yakni cita rasa, penyajian, kreativitas, tekstur, dan aspek kesehatan.
Berbagai olahan singkong yang ditampilkan peserta menunjukkan bahwa bahan pangan sederhana tersebut ternyata dapat dikembangkan menjadi sajian yang jauh lebih menarik.
Semua inovasi olahan bagus, namun ada beberapa penyajian yang lebih menonjol sesuai variannya,” kata Maryati dan Yanti.
Keduanya berharap kegiatan serupa dapat digelar secara rutin dan bahkan menjadi agenda tahunan Desa Pengkol.
Kemerdekaan dirayakan dari dapur warga,Antusiasme masyarakat semakin terasa ketika sejumlah warga turut memberikan bingkisan untuk dijadikan doorprize. Bingkisan tersebut dibagikan kepada seluruh peserta tanpa memandang hasil perlombaan.
Suasana tersebut membuat kegiatan tidak sekadar menjadi ajang mencari pemenang, tetapi berubah menjadi ruang kebersamaan warga.
Bagi masyarakat Desa Pengkol, kemerdekaan bukan hanya tentang upacara dan perlombaan. Kemerdekaan juga dapat dimaknai dengan berani berkarya, mengembangkan potensi desa, dan menciptakan peluang ekonomi dari apa yang tersedia di sekitar mereka.
Dari sebuah bahan pangan sederhana bernama singkong, ibu-ibu Desa Pengkol memperlihatkan bahwa kreativitas tidak selalu membutuhkan bahan mahal.
Cukup dengan hasil bumi sendiri, kemauan untuk berkarya, dan keberanian berinovasi, dapur rumah tangga pun bisa menjadi awal lahirnya produk unggulan desa.
Jika konsistensi ini terus dijaga, bukan tidak mungkin olahan singkong Desa Pengkol kelak menjadi ikon kuliner lokal yang dikenal lebih luas dan membawa nama Wonogiri.(Abie Zaenal)
Posting Komentar