INTEGRITAS.web.id – BANTAENG — Di tengah hamparan pesisir Desa Bonto Jai, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, geliat ekonomi masyarakat kembali terlihat dari aktivitas para petani rumput laut.
Selasa (11/8/2026) siang, tepat pukul 11.59 WITA, para petani bergotong royong memanen rumput laut jenis Cotonik yang telah mencapai usia panen optimal, sekitar 40 hari setelah ditanam.
Dari panen tersebut, petani menghasilkan 200 ikat bentangan dengan total berat mencapai 2.220 kilogram atau sekitar 2,2 ton rumput laut siap dipasarkan.
Di tengah aktivitas pemisahan dan pengemasan, awak media menemui Daeng Asri, salah seorang petani sekaligus pemilik hasil panen. Ia mengungkapkan pilihan yang cukup menarik dalam memasarkan hasil budidayanya.
Bagi Daeng Asri, menjual rumput laut dalam kondisi basah justru lebih menguntungkan karena dapat memangkas waktu, tenaga, dan biaya proses pengeringan.
“Harga jual rumput laut basah saat ini mencapai Rp6.000 per kilogram, sedangkan yang sudah dikeringkan Rp33.000 per kilogram. Namun kalau dihitung untungnya, menurut pengalaman saya, lebih menguntungkan dijual basah,” ujar Daeng Asri.
Menurut dia, proses pengeringan membutuhkan waktu dan tenaga tambahan. Rumput laut harus dijemur selama dua hingga tiga hari hingga kadar airnya turun sesuai standar yang dibutuhkan.
“Kalau dijual basah, kami tidak perlu repot menjemur selama dua sampai tiga hari agar kadar air turun mencapai standar 37 persen. Tenaga dan waktu untuk penjemuran bisa kami hemat dan digunakan untuk kegiatan lain,” katanya.
Pilihan tersebut menunjukkan bahwa bagi petani, keuntungan tidak semata-mata dihitung dari tingginya harga jual per kilogram. Efisiensi waktu, tenaga kerja, dan biaya produksi juga menjadi pertimbangan penting dalam menentukan strategi pemasaran.
Di sisi lain, panen rumput laut di Bonto Jai bukan hanya soal angka produksi. Di balik 2,2 ton hasil panen itu, terlihat kuatnya tradisi gotong royong masyarakat pesisir.
Para petani saling membantu mulai dari mengangkat rumput laut dari lokasi budidaya, mengumpulkan hasil panen, memilah hingga mengemasnya untuk dipasarkan. Pekerjaan yang berat menjadi lebih ringan ketika dikerjakan secara bersama-sama.
Aktivitas tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa rumput laut bukan sekadar komoditas pesisir, tetapi menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat Desa Bonto Jai.
Dengan potensi pesisir yang dimiliki, budidaya rumput laut memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan. Penguatan kualitas produksi, akses pasar, serta efisiensi pascapanen dapat menjadi kunci agar nilai ekonomi yang diterima petani semakin meningkat.
Panen 2,2 ton rumput laut kali ini menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana laut, kerja keras, dan semangat gotong royong dapat menyatu menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir Bonto Jai.(Jamaluddin S.)
Posting Komentar