INTEGRITAS.web.id – TANGGAMUS. Jeritan kepanikan pecah di tengah ganasnya gelombang perairan Kotaagung, Kabupaten Tanggamus, Lampung, Minggu (16/8/2026).

Sejumlah warga dari wilayah Pematang Sawa Ujung bagian selatan harus mempertaruhkan keselamatan hanya untuk pulang ke kampung halaman.
Perjalanan yang semestinya menjadi rutinitas berubah menjadi momen mencekam. Para penumpang dari wilayah Limus Tampang dan sekitarnya terlebih dahulu menaiki sampan dari Pelabuhan Kotaagung untuk menuju kapal motor taksi penyeberangan.

Namun, sebelum sampai ke kapal motor, sampan yang mereka tumpangi dihantam gelombang besar. Hempasan ombak membuat sampan terombang-ambing dan para penumpang sontak panik. Air laut menerjang masuk hingga membasahi pakaian, barang bawaan, telepon seluler, serta berbagai perlengkapan milik penumpang.
Beruntung, tidak ada korban yang dilaporkan tenggelam dalam peristiwa tersebut. Kendati demikian, situasi itu meninggalkan ketakutan mendalam bagi para penumpang.
Salah seorang penumpang, Hamid, Kepala Pekon Tampang Muda, mengungkapkan bahwa kepanikan terjadi ketika gelombang tinggi menghantam sampan yang mereka tumpangi.

Semua penumpang sempat panik dan syok ketika ombak besar menerjang sampan. Ini baru terjadi di pinggir pantai. Belum lagi kalau kapal motor sudah berlayar dan berada di tengah laut, sementara gelombang dan angin begitu kencang,” ungkap Hamid.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi gambaran betapa besar risiko yang harus dihadapi masyarakat Pematang Sawa Ujung setiap kali melakukan perjalanan menuju Kotaagung maupun kembali ke kampung halaman.

Keluhan serupa disampaikan Helmi, warga Pekon Tampang. Ia mengatakan, masyarakat di wilayah tersebut sudah bertahun-tahun menghadapi persoalan akses transportasi.

Bukan hanya warga yang terancam keselamatannya, hasil bumi dan kebutuhan pokok masyarakat juga kerap terkendala ketika gelombang laut tinggi membuat aktivitas penyeberangan tidak memungkinkan.

Memang seperti inilah yang kami alami bertahun-tahun. Kalau hendak pulang kampung maupun menuju Pelabuhan Kotaagung, semuanya penuh risiko. Hasil bumi, kebutuhan pokok rumah tangga, dan warga sering tidak bisa menyeberang karena terkendala ombak besar,” jelas Helmi.

Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena saat ini masyarakat menghadapi musim angin tenggara yang kerap membawa angin kencang dan gelombang tinggi.

Warga Merasa Belum Merasakan Kemerdekaan Infrastruktur
Di tengah ancaman gelombang laut, masyarakat juga mempertanyakan kondisi jalan darat yang hingga kini belum kunjung mendapatkan perbaikan sebagaimana yang mereka harapkan.

Akses darat dari Pekon Way Nipah menuju Pekon Tampang dan sejumlah wilayah di sekitarnya disebut masih sangat memprihatinkan. Warga menggambarkannya seperti “jalan tikus”, sehingga belum mampu menjadi jalur transportasi yang aman dan layak bagi masyarakat.

Mereka berharap janji pembangunan yang pernah disampaikan dalam berbagai momentum politik tidak berhenti sebagai slogan. Masyarakat di sembilan pekon tersebut meminta agar pembangunan akses jalan darat segera direalisasikan.

Sebab, bagi mereka, persoalan jalan bukan sekadar pembangunan fisik. Jalan adalah urat nadi kehidupan—jalan menuju sekolah, pasar, pelayanan kesehatan, distribusi kebutuhan pokok, pengangkutan hasil bumi, sekaligus jalan untuk menyelamatkan warga dari ancaman ganasnya gelombang laut.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, setiap perjalanan warga menuju kampung halaman berpotensi kembali berubah menjadi perjalanan penuh ketegangan antara harapan untuk tiba dengan selamat dan ancaman gelombang yang sewaktu-waktu dapat merenggut nyawa.
P2BMI
Helmi
 

Post a Comment