INTEGRITAS.web.id - LUBUK PAKAM Pemanfaatan biomassa dinilai menjadi peluang strategis untuk memperkuat kemandirian energi sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat desa di Kabupaten Deli Serdang. Limbah pertanian, perkebunan, dan industri yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal berpotensi diolah menjadi sumber energi terbarukan bernilai ekonomi.
Hal itu mengemuka dalam Seminar dan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Optimalisasi Sumber Daya Alam di Desa Guna Mencapai Swasembada Energi” yang digelar di Grha Bhineka Perkasa Jaya, Jumat (23/10).
Bupati Deli Serdang, Asri Ludin Tambunan, mengatakan biomassa merupakan potensi besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan masyarakat. Menurutnya, pengembangan sumber energi tersebut dapat menjadi salah satu upaya meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus mendukung transisi energi.
Biomassa ini merupakan harta karun yang terkadang belum diperhatikan secara langsung oleh masyarakat. Padahal, potensinya besar untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekaligus menyediakan energi terbarukan,” ujarnya.
Wakil Bupati Deli Serdang, Lom Lom Suwondo, menjelaskan daerah itu memiliki potensi biomassa dari berbagai sektor, terutama pertanian, perkebunan, dan industri. Bahan baku yang dapat dimanfaatkan antara lain sekam padi, jerami, tongkol dan batang jagung, serta tandan kosong kelapa sawit.
Ia menilai pengembangan biomassa membutuhkan perubahan cara pandang terhadap sisa hasil produksi yang selama ini dianggap limbah.
Yang perlu kita ubah bukan hanya cara mengolahnya, tetapi juga cara kita melihat sisa pertanian, perkebunan, dan industri. Bukan semata-mata sebagai limbah, tetapi sebagai sumber daya dan peluang usaha,” katanya.
Menurut Lom Lom, pengembangan biomassa perlu didukung kolaborasi pemerintah daerah, BUMN, BUMD, perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah desa, kelompok tani, koperasi, BUMDes, dan masyarakat. Sinergi tersebut diharapkan mampu membuka peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan petani, serta menciptakan lapangan kerja di pedesaan.
Deli Serdang sendiri pernah mengembangkan pembangkit listrik berbasis biomassa dengan memanfaatkan kayu karet dari peremajaan kebun di Desa Tanjung Selamat, Kecamatan Percut Sei Tuan. Pengalaman itu menjadi salah satu modal untuk mendorong pengembangan biomassa secara lebih luas.
Lom Lom menekankan pentingnya membangun rantai pasok biomassa yang profesional dan berkelanjutan, mulai dari petani, gabungan kelompok tani (Gapoktan), koperasi, BUMDes, pengepul, pengolah, pengujian kualitas, transportasi, hingga pembeli akhir.
Ia berharap kegiatan tersebut menghasilkan langkah konkret, antara lain penyusunan rencana pengembangan rantai pasok, identifikasi BUMDes dan koperasi yang siap terlibat, penetapan titik pengumpulan biomassa di desa dan kecamatan, serta pembentukan kemitraan dengan pembeli.
Desa jangan hanya menjadi penyedia bahan baku. Kita harus memastikan masyarakat desa juga memperoleh nilai tambah dari pengolahan dan pemanfaatan biomassa,” tegasnya.
Sementara itu, Komisaris Utama PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI), Nikson Silalahi, menjelaskan biomassa dapat digunakan sebagai bahan pencampur atau pengganti sebagian batu bara dalam pembangkitan listrik.
Menurutnya, potensi limbah pertanian dan perkebunan di Deli Serdang membuka kesempatan bagi petani, Gapoktan, koperasi, dan BUMDes untuk terlibat dalam rantai pasok energi sekaligus mengembangkan usaha produktif.
PLN EPI, lanjutnya, berperan memastikan ketersediaan energi primer bagi pembangkit listrik, termasuk melalui pengembangan pasokan biomassa untuk mendukung transisi energi nasional dan target Net Zero Emission pada 2060.
Nikson menyebutkan, berdasarkan perhitungan yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, penyediaan 100.000 ton biomassa per tahun berpotensi melibatkan sekitar 1.000 orang dalam kegiatan ekonomi.
Pemanfaatan dalam skala itu juga disebut berpotensi membantu mengurangi emisi karbon.
Karena itu, kerja sama antara PLN EPI, pemerintah daerah, pemerintah desa, kelompok tani, koperasi, dan pelaku usaha dinilai penting untuk menjamin ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan.
Seminar dan FGD tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber yang membahas pengembangan biomassa dari berbagai perspektif.
Direktur Biomassa PT PLN EPI, Hokkop Situngkir, memaparkan potensi desa sebagai pilar kemandirian energi masa depan.
Guru besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember, Soni Sisbudi Harsono, membahas hilirisasi limbah biomassa menjadi produk energi terbarukan bernilai tinggi.
Staf Khusus Menteri Desa Bidang Kebijakan Publik, Andi Rahmah, menguraikan strategi dan kolaborasi desa dalam membangun ekosistem biomassa berkelanjutan. Sementara itu, Direktur Pengembangan Sosial Budaya dan Lingkungan Desa dan Perdesaan, Andrey Ikhsan Lubis, menyoroti pentingnya partisipasi dan penerimaan masyarakat.
Adapun Rizky Rahmawati Lubis, Analis Kebijakan Ahli Madya pada Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, memaparkan arah kebijakan pengembangan ekonomi desa untuk mendukung pemanfaatan potensi lokal.
Pemerintah Kabupaten Deli Serdang berharap pengembangan biomassa dapat ditindaklanjuti melalui perencanaan yang terukur dan kerja sama berkelanjutan antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Upaya tersebut diharapkan tidak hanya mendukung transisi energi, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi hasil pertanian dan perkebunan serta memperkuat ekonomi desa.
( Sopian )
Posting Komentar